FKS
Lata Belakang
Kethoprak adalah seni drama tradisional yang khas dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya Ngawi, yang menggabungkan cerita rakyat dengan musik gamelan dan dialog hidup. Namun, perkembangan teknologi dan arus globalisasi menyebabkan minat generasi muda terhadap seni ini mengalami penurunan (Santoso, 2022). Data penelitian menunjukkan bahwa sekitar 65% remaja saat ini lebih memilih hiburan digital daripada kegiatan budaya tradisional (Yunus et al., 2021). Hal ini mengancam keberlangsungan pelestarian budaya lokal yang merupakan bagian penting dari identitas bangsa.
Menurut Kemendikbud (2020), integrasi kearifan lokal dalam pendidikan sangat strategis untuk mengembangkan karakter dan identitas siswa sebagai bagian dari implementasi program Merdeka Belajar. Festival Kethoprak Skanida Jilid VI hadir sebagai respons terhadap kondisi ini, bertujuan menghidupkan kembali minat siswa terhadap seni tradisional sekaligus menjadi media penguatan nilai Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, kreativitas, dan rasa kebangsaan (Kemendikbud, 2020).
Melalui pembelajaran berbasis projek (Project-Based Learning), siswa terlibat langsung dalam persiapan dan pementasan kethoprak sehingga mereka tidak hanya menguasai seni peran dan budaya, tetapi juga nilai karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat (Nurhadi, 2019). Festival ini penting sebagai inovasi pendidikan yang kontekstual dan relevan untuk mengatasi tantangan pelestarian budaya dan pembentukan karakter di era digital.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan:
- Mengembangkan pembelajaran berbasis projek yang mengintegrasikan kearifan lokal budaya kethoprak untuk meningkatkan relevansi kurikulum
- Meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap budaya tradisional sebagai bagian dari identitas nasional
- Mendorong implementasi Merdeka Belajar dengan menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila secara nyata melalui projek budaya
Manfaat:
- Menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya lokal yang dapat memperkuat identitas bangsa
- Mengembangkan karakter pelajar yang kreatif, kolaboratif, dan mandiri sesuai dengan tuntutan abad 21
- Menjadi model pembelajaran inovatif yang dapat diadopsi oleh sekolah lain untuk pelestarian budaya dan penguatan karakter siswa.
Sasaran Inovasi
Sasaran inovasi ini mencakup berbagai pihak yang berperan penting dalam pelestarian budaya dan penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal, antara lain:
- Guru: Sebagai fasilitator dan pengembang pembelajaran berbasis projek, guru berperan dalam merancang dan membimbing siswa agar aktif terlibat dalam festival kethoprak serta menerapkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.
- Siswa: Sebagai pelaku utama pembelajaran, siswa diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter melalui keterlibatan langsung dalam projek dan pementasan budaya.
- Wali Murid: Mendukung dan memotivasi anak didik dalam mengikuti kegiatan budaya serta membantu penyediaan sumber daya yang dibutuhkan
- Masyarakat: Sebagai bagian dari komunitas yang melestarikan dan meneruskan budaya lokal, masyarakat ikut berperan aktif dalam mendukung keberlangsungan festival dan penguatan kearifan lokal.
- Dinas Pendidikan: Memberikan dukungan kebijakan dan pembinaan teknis agar inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat berjalan efektif dan berkelanjutan
- Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora): Mendukung promosi dan pengembangan seni budaya lokal, sekaligus mendorong partisipasi pemuda dalam kegiatan budaya
- Pemerintah Kabupaten Ngawi: Berperan dalam penyediaan anggaran, fasilitasi, dan regulasi yang mendukung pengembangan dan pelestarian budaya daerah melalui program-program pendidikan dan budaya.
- Penggiat Budaya Ngawi: Sebagai narasumber dan pelatih seni, membantu transfer ilmu dan praktik budaya kethoprak kepada generasi muda.
- Pelaku Usaha di Ngawi: Memberikan dukungan sponsor, sarana prasarana, dan kolaborasi yang memperkuat pelaksanaan festival dan pengembangan budaya
Dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan ini, inovasi diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan dalam pelestarian budaya serta penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
Mekanisme/Organisani yang disusun untuk melakukan inovasi
Pelaksanaan inovasi ini memerlukan pembentukan sebuah organisasi projek yang melibatkan berbagai pihak, terutama guru Bahasa jawa, guru seni budaya, guru pendamping mata pelajaran lain, komunitas penggiat kethoprak, serta siswa sebagai pelaku utama. Tim ini bertugas merancang tahapan kegiatan mulai dari pelatihan, persiapan naskah, penguasaan seni peran dan musik gamelan, hingga pementasan festival. Rencana kerja disusun secara rinci dan disesuaikan dengan kalender akademik untuk memastikan tidak mengganggu proses belajar mengajar utama. Untuk koordinasi yang efektif, teknologi komunikasi digital seperti grup WhatsApp dan platform Zoom dimanfaatkan agar semua anggota tim dapat berkomunikasi secara fleksibel dan efisien, terutama dalam masa pembatasan sosial atau jadwal yang padat. Monitoring dilakukan secara berkala melalui rapat evaluasi untuk mengidentifikasi hambatan dan mengadaptasi langkah selanjutnya sehingga inovasi berjalan lancar.
Aspek/Materi yang dikembangkan dalam inovasi
Materi yang dikembangkan dalam inovasi ini meliputi pengenalan dan pendalaman seni kethoprak yang mencakup sejarah seni tradisional tersebut, teknik pementasan, serta musik pengiring gamelan yang menjadi ciri khas. Selain aspek teknis, siswa juga dibekali dengan pemahaman nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila yang ingin ditanamkan melalui kegiatan ini, seperti sikap gotong royong, kreatifitas, keberagaman, dan rasa tanggung jawab sosial. Selain itu, aspek keterampilan abad 21 seperti kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, dan memanfaatkan teknologi juga dikembangkan agar siswa tidak hanya paham budaya tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai budaya tersebut dengan perkembangan zaman. Pengembangan manajemen acara juga diajarkan agar siswa memahami proses organisasi kegiatan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.
Ketercapaian (indikator keberhasilan) dan kendala dalam pelaksanaan inovasi serta alternatif solusi
Keberhasilan inovasi ini diukur dari tingkat partisipasi siswa yang aktif dalam seluruh rangkaian projek minimal mencapai 90%, peningkatan pemahaman siswa terhadap nilai budaya dan Profil Pelajar Pancasila yang dapat dilihat dari hasil refleksi dan observasi guru, serta tersusunnya modul pembelajaran projek berbasis budaya yang dapat digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. Namun, beberapa kendala yang muncul antara lain keterbatasan waktu latihan yang harus disesuaikan dengan jadwal akademik, kurangnya fasilitas pendukung seperti ruang latihan dan perlengkapan gamelan, serta hambatan dalam koordinasi yang terkadang terjadi karena kesibukan guru dan anggota tim lain. Sebagai solusi, jadwal latihan dibuat lebih terstruktur dan terintegrasi dengan jam pelajaran, dukungan dari sponsor dan sekolah diarahkan untuk pemenuhan fasilitas, sementara komunikasi daring dimaksimalkan agar koordinasi tetap efektif meski tidak selalu bertatap muka langsung.
Selain itu kendala cuaca juga menjadi salah satu hambatan yang cukup berat, karena sejak hari pertama pementasan selalu diguyur hujan, bahkan ketika opening ceremony hujan lebat terjadi, namun hal itu tidak mematahkan semangat siswa dalam menyuguhkan penampilan yang luar biasa menghibur. Dibawah derasnya hujan para penari tetap memberikan penampilan terbaiknya. Salah satu solusi yang dilakukan untuk mengatasi kendala cuaca ini adalah dengan menambahkan tenda untuk di lapangan agar memfasilitasi penonton dan pengisi acara. Panitia juga bekerjasama dengan karang taruna desa untuk membantu perbaikan jalan pasca hujan lebat dan pengaman parkir selama acara.
Kerja sama dengan pihak atau pemangku kepentingan dalam pelaksanaan inovasi
Kerjasama dengan berbagai pihak menjadi fondasi penting dalam keberhasilan inovasi ini. Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata dan Pemuda turut memberikan pendampingan teknis serta dukungan pendanaan agar proses inovasi dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Komunitas seni kethoprak berperan sebagai narasumber sekaligus pelatih yang mentransfer ilmu dan pengalaman kepada siswa dan guru, sehingga kualitas pementasan terjaga. Dukungan dari orang tua siswa dalam bentuk motivasi dan logistik sangat membantu dalam menjaga semangat dan kelancaran pelaksanaan projek. Media lokal dan sekolah mitra diajak untuk melakukan publikasi kegiatan, sehingga festival mendapat perhatian luas dan mengangkat citra budaya kethoprak di kalangan masyarakat.
Deskrispi inovasi (konsep, metode, atau teknologi yang digunakan jika menggunakan teknologi)
Inovasi pembelajaran ini mengadopsi konsep festival budaya bernama Festival Kethoprak Skanida Jilid VI, yang dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam secara berturut-turut. Festival ini menampilkan tujuh lakon kethoprak yang merupakan hasil kolaborasi antara dua kelas XI dalam setiap pementasannya. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya proses pembelajaran seni tradisional secara kontekstual, tetapi juga mendorong kerja sama lintas kelas yang memperkuat nilai gotong royong dan komunikasi efektif antar peserta didik. Setiap lakon menjadi wujud nyata penerapan nilai Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada aspek bernalar kritis dan kreatif, serta sikap kolaboratif.
Selain itu, festival ini mengintegrasikan peran siswa kelas X dengan menampilkan pentas seni yang merepresentasikan keunikan dan keahlian dari masing-masing jurusan yang ada di SMKN 2 Ngawi. Terdapat lima jurusan yang secara bergantian menampilkan pertunjukan seni mulai pukul 18.00 WIB setiap malam, sebagai pembuka acara. Pentas seni ini juga berfungsi sebagai ruang ekspresi kreativitas siswa dalam mengangkat budaya lokal serta pengembangan soft skill seperti public speaking, manajemen acara, dan kerja tim. Kegiatan kelas X juga diperluas dengan penyelenggaraan stand bazar kearifan lokal yang menampilkan berbagai produk khas daerah di Jawa Timur, seperti jajanan tradisional dan karya seni yang mewakili nilai-nilai budaya lokal. Stand bazar ini tidak hanya meningkatkan kesadaran siswa dan pengunjung akan kekayaan kearifan lokal, tetapi juga memberikan pengalaman belajar kewirausahaan dan ekonomi kreatif yang relevan dengan pembelajaran vokasi di sekolah.
Pentas seni kelas X dan pementasan kethoprak kelas XI dilaksanakan secara terintegrasi dengan jadwal yang telah disusun secara sistematis: pentas seni dimulai pukul 18.00 WIB sebagai pemanasan, dilanjutkan oleh pementasan kethoprak pada pukul 19.30 WIB. Penataan waktu yang terstruktur ini memastikan keberlangsungan acara yang dinamis dan memberikan ruang optimal bagi masing-masing elemen untuk tampil secara maksimal.
Pelaksanaan festival selama tujuh hari ini mampu memfasilitasi kolaborasi aktif antara seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, staf administrasi, hingga wali murid dan stakeholder eksternal seperti Pemerintah Kabupaten Ngawi, dinas pendidikan, dinas pariwisata, pemuda dan olahraga, serta komunitas budaya. Sinergi yang terjalin dalam festival ini menunjukkan keberhasilan pendekatan pembelajaran berbasis projek yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter, budaya, dan jaringan sosial di lingkungan sekolah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan ini efektif menguatkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi gotong royong, mandiri, kreatif, serta beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, keterlibatan lintas elemen dalam festival memperlihatkan peningkatan semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial di antara peserta, sehingga festival tidak sekadar menjadi ajang hiburan tetapi juga wahana pembelajaran yang holistik dan bermakna.
Penggunaan teknologi digital juga dimanfaatkan dalam koordinasi panitia dan dokumentasi kegiatan, seperti pengelolaan jadwal melalui aplikasi komunikasi daring, perekaman video pementasan, serta publikasi di media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Pendekatan ini mendukung keterlibatan siswa dalam literasi digital sekaligus memperkuat eksistensi budaya kethoprak di era modern.
Dampak atau hasil yang diharapkan
Melalui inovasi ini diharapkan terjadi peningkatan minat dan kecintaan siswa terhadap seni budaya kethoprak sebagai bagian dari warisan budaya daerah. Selain itu, proyek ini diharapkan mampu menguatkan karakter siswa sesuai dengan nilai Profil Pelajar Pancasila, seperti menjadi pelajar yang kreatif, mandiri, beriman, dan mampu berkolaborasi secara efektif. Festival Kethoprak Skanida juga diharapkan menjadi model inovasi pembelajaran berbasis budaya yang dapat diadopsi oleh sekolah lain, sehingga berdampak luas pada pelestarian budaya. Jejaring kerjasama antara sekolah, komunitas seni, dan pemerintah juga diharapkan semakin kokoh, membuka peluang untuk program berkelanjutan yang mendukung pendidikan dan budaya secara simultan.
Rencana implementasi dan keberlanjutan inovasi
Implementasi inovasi direncanakan secara bertahap mulai dari integrasi projek pementasan kethoprak ke dalam kurikulum dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pelatihan guru secara berkelanjutan, serta pelaksanaan festival sebagai agenda tahunan. Dukungan dana akan dicari dari berbagai sumber, termasuk pemerintah daerah, sponsor, dan swadaya sekolah. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara rutin untuk mengukur efektivitas dan mengidentifikasi kebutuhan perbaikan. Keberlanjutan inovasi juga ditunjang oleh pengembangan modul pembelajaran dan peningkatan kapasitas guru, sehingga program ini tidak hanya bersifat sementara melainkan menjadi bagian dari budaya sekolah dan komunitas.
